Cerpen

Tidak Ada yang Bodoh di Dunia

Sekolah Kyungsan Internasional. Sekolah terkemuka di Jakarta. Victoria, Jeanette, Alexa adalah 3 sahabat yang semuanya mempunyai prestasi gemilang di sekolah tersebut.
Suatu hari, di tengah semester 1 kelas 7, mereka kedatangan seorang anak baru yang bernama Udin. Udin berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah. Bahkan diapun juga mengakui bahwa dia dan adiknya pernah menjadi pemulung. Dia juga mengakui bahwa dia dapat masuk sekolah tersebut berkat beasiswa yang diberikan oleh sebuah organisasi kepadanya.

“Selamat pagi Udin, selamat datang di sekolah ini . Semoga kamu bisa segera merasa nyaman dengan kami .” Sapa Alexa ketua kelas 7D Sekolah Kyungsan.
“Ya , terima kasih atas sambutanmu aku akan segera beradaptasi disini ”  Jawab Udin.
“Sekarang kamu bisa duduk di belakang Jeanette di pojok sana” kata Alexa lagi.
“Baiklah”  jawab Udin sumringah

*kring* bel istirahat berbunyi

Kelas 7d semuanya makan bersama udin si anak baru. Eh tunggu, sbentar,siapa itu yang dipojok sana? Oh ternyata jeanette.

“Jeanette, ngapain disana? sini dong.”ucap Victoria.
“males ah, aku tidak mau bergaul dengan Udin, dia kampugan.” balas Jeanette.
“kamu tidak boleh brkata sperti itu. semua orang punya bakat.” ucap victoria.
“tetap saja lah. Itu pendapatku.” kata Jeanette.

Hari ke hari, Jeanette semakin membenci Udin. Terlebih karena sekarang Udin sangat populer di kelasnya. Entah mengapa, walaupun kemampuan akademisnya agak kurang, namun Udin sangat bersahabat, sehingga membuat semua orang menyukainya.

“Jeanette , hentikanlah sikap mu yang seperti itu. Kamu bukan lagi anak SD yang bisa bertengkar hanya karena masalah sepele. Kamu sudah SMP, INGAT ITU !” teriak Alexa tidak sabaran ketika melihat kebencian Jeanette terhadap Udin semakin menjadi-jadi.
“Oh gitu ? Jadi sekarang kamu ngebela si anak miskin dengan nama kampungan itu hah ? Kamu kira aku siapa ? Seenaknya saja menyuruhku begini begitu ! Sudah sana, pergilah bermain bersama Udin dan teman-teman lainnya. Aku sedang ingin menyendiri.” balas Jeanette tak kalah emosi.
“Bukannya aku membela Udin, aku hanya ingin sahabatku kembali menjadi dirinya sendiri yang selalu ceria. Tidak seperti sekarang ini, selalu murung dan menyendiri. Sudah beberapa minggu kulihat kamu selalu menjauh dariku ketika kau melihat Udin hendak ngobrol denganku.” sanggah Alexa.

Tibalah hari penerimaan raport mid semester. Seperti biasa, Jeanette menerima hasil yang memuaskan tanpa diragukan. Sangat berbeda dengan apa yang diterima oleh Udin. Ada beberapa, bahkan bisa dibilang banyak dari nilai yang diperoleh Udin selalu dibawah rata-rata. Jeanette pun memandang sinis hasil yang diterima Udin.

“Hei, anak macam apa dia ini? Masuk ke sekolah yang terbilang sangat bagus, kau malah harus remedial hampir di setiap ulangan ! Kamu memang tidak pantas masuk di sini. Sudah lah, akui saja, kamu tidak selevel denganku.” gumam Jeanette.

“Hei Jeanette ! Gimana ? Hasil raportmu tetap memuaskan kan ?” tanya Victoria dari pojokan kelas.
“Ya iyalah, aku kan selalu mendapatkan hasil yang memuaskan, ga seperti Udin, dia tidak ada angka 100 satupun. 90 juga tidak ada!” Jeanette menjawab dengan angkuh.
“Jeanette, kamu tidak boleh menilai seseorang hanya dari kemampuan akademisnya saja. Kamu juga harus nemperhatikan kelebihannya yang lain.” kata Victoria lagi.
“Tapi kan memang faktanya dia bodoh. Dia masuk ke sekolah ini juga bukan dengan biayanya sendiri. Jadi, memangnya aku salah jika mengatakan hal semacam itu ?” cibir Jeanette.
“Ya tentu saja kamu salah. Bukan mau dia kok menjadi seorang pemulung. Itu hanya karena keadaan yang memaksanya melakukan pekerjaan tersebut.” sambung Alexa yang sedarivtadi mendengarkan percakapan kedua sahabatnya ini.
“Ya sudahlah jika kalian berdua memang lebih suka berteman dengannya daripada denganku. Silakan saja sana, hampiri dia.” jawab Jeanette sambil menyenggol badan Udin yang termasik kecil itu.

Udin yang sedari tadi memperhatikan Jeanette pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Alexa.
“Alexa, Jeanette tuh kenapa? Dia sama sekali tidak senang dengan keberadaanku ya?” tanya Udin langsung to the point.
“Iya, aku rasa seperti itu. Dia pikir kamu sangat bodoh, sehingga kamu tidak pantas masuk ke srkolah ini.” jawab Alexa sambil tersenum pahit.
“Oh begitu. Baiklah, biarkan saja jika dia memang tidak mau berteman denganku. Aku tidak akan memaksanya kok.” sambung Udin.
“Tapi semua perkataanku tadi jangan dimasukkan ke hati ya, anggap saja tadi pembicaran asal lewat.” kata Alexa lagi.
“Iya, aku sudah biasa kok dengan sindiran seperti itu.” jawab Udin.

Saat pelajaran KTK, Ibu guru memberi tugas untuk menggambar karikatur tokoh. Jeanette sangat kebingungan karena dia tidak begitu pintar dalam bidang keterampilan. Tiba-tiba ibu guru berkata “Anak-anak, waktu kalian 45 menit lagi.” Janette sangat kaget karna dia belum menggambar apapun di kertasnya. Tanpa dia sadari, ada sesorang yang sedang memperhatikan dirinya. Orang itu adalah Udin. Memang Udin terkenal dengan keahliannya dalam bidang seni. Ia sangat pintar menggambar.

“Mauku bantu?” seseorang berkata sambil menghampirinya, Udin.
“eh? kamu berbicara denganku?” balas Jeanette.
“ya,siapa lagi?:p” ujar Udin bergurau
“hm… boleh deh”balas Jeanette.

Dari kejadian itu, Jeanette sadar bahwa Udin memang mempunyai kelebihan dibidang seni. Ia sangat menyesali sikapnya yang mungkin saja membuat Udin sakit hati. Akhirnya Jeanette meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

“Tidak ada orang yang bodoh didunia ini, semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, janganlah kita merendahkan orang lain.”

Karya : Maria Averia , Christabelle Graciella Irene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s